Jumat, 31 Mei 2013

Makalah Manajemen Kurikulum




MAKALAH

TUGAS KULIAH PROFESI KEPENDIDIKAN
MANAJEMEN KURIKULUM







Disusun Oleh :
Diana Muslichatun
K3311020
Pendidikan Kimia A

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013


KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Yang Maha Esa karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya Penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan judul berbagai macam metode pembelajaran.
Makalah ini secara khusus disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Profesi Kependidikan pada Semester IV tahun 2013. Makalah ini dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penulis menyampaikan terimakasih pada seluruh pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan, kekeliruan dan kesalahan yang terdapat pada makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun penulis harapkan dapat disampaikan kepada penulis.

                                                                                               Surakarta, 16 Mei 2013

                                                                                                            Penulis


DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL           .............         i
KATA PENGANTAR           ...........        ii
DAFTAR ISI           ..................       iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang         ....        1
B.     Rumusan Masalah          ......        2
C.     Manfaat Penulisan        ........        2
D.    Metode Penulisan       .......        2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Manajemen Kurikulum     ...        3
B.     Tujuan Manajemen Kurikulum      .....        5
C.     Fungsi Manajemen Kurikulum     ......        7
D.    Prinsip-prinsip Manajemen Kurikulum      .....      11
E.     Ruang Lingkup Manajemen Kurikulum      .....      14
F.      Proses Manajemen Kurikulum     .......      16
G.    Faktor Pendukung dan Penghambat Proses Manajemen Kurikulum ...      22
H.    Hubungan Teori Pendidikan dan Kurikulum    ....      23
BAB III PENUTUP
Simpulan             ...........      25
CATATAN KAKI           ...............       iv
DAFTAR PUSTAKA           ..........        v
 


BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Kurikulum adalah suatu sistem yang mempunyai komponen-komponen yang saling berkaitan erat dan menunjang satu sama lain. Komponen-komponen kurikulum tersebut terdiri dari tujuan, materi pembelajaran, metode, dan evaluasi. Dalam bentuk sistem ini kurikulum  akan berjalan menuju suatu tujuan pendidikan dengan adanya saling kerja sama diantara seluruh subsistemnya. Apabila salah satu dari variabel kurikulum tidak berfungsi dengan baik maka sistem kurikulum akan berjalan kurang baik dan maksimal.[1]

Sabtu, 23 Juni 2012

Hasil pembahasan observasi di SMA tugas Perkembangan Peserta Didik

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pendidik merupakan faktor penentu dalam menentukan keberhasilan peserta didik menangkap, mencerna, serta memahami suatu materi. Pendidik yang berkualitas akan menjadikan peserta didiknya mengalami peningkatan kemampuan berfikir dan peningkatan kognitifnya. Saat memberikan pelajaran kepada peserta didik, pendidik perlu menentukan suatu metode yang sesuai bagi peserta didiknya. Suatu metode pembelajaran dapat dipilih berdasarkan materi yang akan disampaikan, situasi dan kondisi peserta didik, serta sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah tersebut. perlu diketahui, dari sekian banyak metode pembelajaran yang ada, tidak ada satupun yang benar-benar cocok dengan materi tersebut, namun pendidik dapat memilih salah satu metode atau berbagai metode pembelajaran yang kiranya akan sesuai dengan peserta didik, menurut materi yang akan disampaikan pula. Beragam metode dapat digunakan dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran sains kimia yang akan dibahas di bab selanjutnya. Metode pembelajaran yang akan dibahas ini mengacu pada materi kelas dua di Sebuah SMA, situasi dan kondisi peserta didik, serta sarana dan prasarana di Sebuah SMA.

B.       Rumusan Masalah
1.    Metode apakah yang sesuai dengan pelajaran Sains khususnya kimia di Sebuah SMA?

C.      Tujuan Penulisan
1.    Untuk mengetahui metode apakah yang sesuai dengan pelajaran Sains khususnya Kimia di Sebuah SMA.
BAB II
PEMBAHASAN

Pada observasi di Sebuah SMA, pendidik yang diwawancarai adalah guru kimia, yang mengajar di kelas sebelas. Oleh karena itu, pada pembahasan ini akan dibahas tentang metode yang sesuai dengan pelajaran kimia materi di kelas sebelas.
Metode pembelajaran pada observasi ini kurang dibahas secara terperinci pada tiap-tiap bab materinya. Namun pada umumnya metode pembelajaran yang diberikan peserta didik adalah metode ceramah. Pendidik tidak memilih metode lain karena menurut pendidik tersebut, metode lain tidak sesuai dengan situasi dan kondisi peserta didik, walaupun sarana dan prasarana di sekolah tersebut sudah memenuhi.
Metode ceramah adalah metode yang paling umum digunakan oleh pendidik dari dulu, hingga sekarang. Walaupun sudah banyak metode-metode baru yang diterapkan pendidik, metode ini tetap dianggap paling sesuai dengan pembelajaran terutama pada materi yang perlu menanamkan konsep.
Metode ceramah menurut beberapa ahli memiliki berbagai karakteristik yang akhirnya mengakibatkan adanya beberapa kelebihan dan kekurangan. Menurut Erman Suherman, metode ceramah merupakan metode mengajar yang paling banyak digunakan, hal ini mungkin dianggap oleh guru sebagai metode mengajar yang paling mudah dilaksanakan. Kalau bahan pelajaran dikuasai dan sudah ditentukan urutan penyampaiannya, guru tinggal menyajikannya di depan kelas. Siswa-siswa memperhatikan guru berbicara, mencoba menangkap apa isinya dan membuat catatan. Sedangkan menurut Nana Sudjana ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ini tidak senantiasa jelek bila penggunaannya dipersiapkan dengan baik, didukung dengan alat dan media, serta memperhatikan batas-batas penggunaannya.
Kekurangan dan kelebihan metode ceramah yang dikemukakan oleh Erman Suherman :

A.      Kelebihan Metode Ceramah
1.    Dapat menampung kelas besar, tiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk mendengarkan, dan karenanya biaya yang diperlukan menjadi relatif lebih murah.
2.    Konsep yang disajikan secara hirarki akan memberikan fasilitas belajar kepada siswa.
3.    Guru dapat memberi tekanan terhadap hal-hal yang penting hingga waktu dan energi dapat digunakan sebaik mungkin.
4.    Kekurangan atau tidak adanya buku pelajaran dan alat bantu pelajaran, tidak menghambat terlaksananya pelajaran dengan ceramah.
B.       Kekurangan Metode Ceramah
1.    Pelajaran berjalan membosankan dan siswa-siswa menjadi pasif, karena tidak berkesempatan untuk menemukan sendiri oleh konsep yang diajarkan. Siswa hanya aktif membuat catatan saja.
2.    Kepadatan konsep-konsep yang diberikan dapat berakibat siswa tidak mampu menguasai bahan yang diajarkan.
3.    Pengetahuan yang diperoleh melaui ceramah lebih cepat terlupakan.
4.    Ceramah menyebabkan belajar siswa menjadi “Belajar Menghafal” yang tidak mengakibatkan timbulnya pengertian.
Dari pengertian, kelebihan dan kekurangan metode ceramah diatas, metode ini memang akan cocok digunakan pada sebagian materi kimia yang isinya tentang konsep-konsep penting yang memang menurut peserta didik cenderung bersifat abstrak atau sulit dianalogikan dengan kehidupan nyata. Konsep-konsep yang dianggap abstrak ini akan sulit diterima peserta didik apabila metode yang digunakan adalah dengan memancing kemampuan kognitif peserta didik untuk memahami sendiri konsep. Juga dengan berbagai pertimbangan dari segi banyaknya peserta didik dalam satu kelas di Sebuah SMA. Akan kurang efisien dengan banyaknya peserta didik, materi yang banyak dan waktu yang tebatas.
Namun, kekurangan-kekurangan pada metode ceramah ini juga perlu diperhatikan dan dicari solusinya. Untuk itu, metode yang lebih sesuai adalah, dengan tidak hanya menggunakan satu metode saja dalam semua materi pelajaran kimia kelas duabelas. Tapi dengan mengkombinasikannya dengan metode lain, yang mengajak peserta didik menjadi lebih aktif.
Pada materi dimana konsep sangat ditekankan dan berisi hitungan kimia, dapat menggunakan metode ceramah. Setelah itu, pendidik semaksimal mungkin berusaha membuat peserta didik berlatih hitungan dengan bantuan pendidik apabila kesulitan peserta didik kesulitan menjawab soal latihan atau disebut learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan). Dengan demikian, peserta didik dapat aktif dan berusaha membangun sendiri konsep-konsep yang lebih mendalam. Konsep awalnyalah yang bersifat pasif, tapi saat mencoba mengerjakan soal, maka peserta didik akan lebih mendalami dan memahami materi yang sedang dipelajari.
Learning community merupakan bagian dari model pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL). Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif – nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.
Pada materi kimia yang membahas tentang banyak konsep saja dan tidak berisi hitungan, ada dua sifat yaitu materi kimia yang bersifat konkret dan abstrak. Materi kimia yang bersifat konkret contohnya adalah koloid pada bab terakhir kimia kelas sebelas yang sangat berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Sedangkan materi kimia yang bersifat contohnya struktur atom, sistem periodik dan ikatan kimia yang menjadi bab I kimia kelas sebelas.
Pada materi kimia yang bersifat konkret atau biasa ditemukan di kehidupan sehari-hari, metode yang sesuai yaitu dengan penggunaan metode praktikum, karena mengingat mudahnya menemukan bahan-bahan materi dari kehidupan sehari-hari, dengan praktikum, materi yang banyak berisi hafalan, akan mudah diingat dan dipahami peserta didik.
Metode praktikum adalah metode yang akan mengembangkan keterampilan psikomotik, kognitif dan afektif. Peserta didik akan mencoba mengamati percobaan yang dilakukan, mengasah keterampilan dalam menggunakan alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum, menafsirkan dan meramalkan hasil data percobaan, menerapkan konsep yang telah dipelajari sebelum praktikum, merencanakan apa yang akan dilakukan dalam percobaan, mengkomunikasikan hasil praktikum dengan pendidik, apakah telah sesuai atau belum sesuai dengan konsep dan menganalisis kenapa terjadi kesalahan (apabila terjadi), dan mengajukan pertanyaan-petanyaan tentang percobaan. Sebelum praktikum, hendaknya diadakan dulu pre-test, selain untuk mengetahui kesiapan peserta didik, memancing peserta didik belajar sebelum praktikum, juga memberi gambaran kepada pendidik, tentang apa saja yang belum diketahui peserta didik sehingga cukup memberi tahu materi yang belum diketahui peserta didik. Kemudian setelah praktikum hendaknya peserta didik meberikan hasil praktikum, apa saja yang didapatkan dalam praktikum, dan menganalisa kesesuaian dengan teori, namun karena tahapnya masih sekolah menengah atas, bantuan pendidik dalam memancing peserta didik diperlukan agar peserta didik mampu menganalisa percobaan dengan teori.
Pada kenyataannya, praktikum yang efisien, pemberian pre-test, dan pembuatan hasil praktikum sulit untuk dilaksanakan sepenuhnya. Kendala-kendalanya berupa peserta didik yang kurang memahami materi sebelum praktikum, sehingga hasil pre-testnya kurang baik, praktikum yang kurang efisien karena keterbatasan alat dan bahan, serta kesulitan peserta didik menganalisa hasil praktikum. Di Sebuah SMA, kondisi perbaikan laboraturium menyebabkan sulitnya mengatur jadwal praktikum dimana ada banyak kelas disana dan laboraturium kimia, fisika dan biologi yang dijadikan satu sehingga harus mengatur jadwal dengan seksama.
Refleksinya, keaktifan pendidik dalam mempersiapkan metode praktikum benar-benar matang. Dari pihak sekolah hendaknya segera memperbaiki sarana dan prasarana laboraturium sehingga dapat memperlancar kegiatan belajar mengajar melalui metode ini. praktikum ini akan membuat peserta didik lebih memahami dan mudah mengingat materi yang banyak apabila kegiatan praktikum dapat terlaksana dengan baik.
Pada materi kimia yang bersifat abstrak, yang akan sulit dipahami logika dengan metode praktikum, karena materinya bersifat micro atau tidak dapat diamati secara kasat mata, metode yang sesuai yaitu dengan metode jigsaw. Dengan metode bukan ceramah akan membuat peserta didik tidak mengalami kebosanan dan pasif. Metode jigsaw membuat peserta didik aktif berusaha memahami materi yang diberikan. Metode jigsaw yaitu metode dimana pertama-tama peserta didik diberikan pengarahan tentang metode yang akan digunakan dalam pembelajaran tersebut.
Tahapan pertama metode ini yaitu dengan memberitahukan tentang materi apa saja yang akan digunakan dalam pembelajaran ini, materi ini telah dibagi-bagi menjadi beberapa bagian. Membuat kelompok secara heterogen, contohnya dalam satu kelas ada 40 peserta didik. 40 peserta didik ini dibagi menjadi dua, jadi ada 20 peseta didik dalam tiap bagian. 20 peserta didik ini kemudian dikelompokkan menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok ada 5 orang. Ini sesuai dengan peserta didik di Sebuah SMA yang heterogen. Dalam satu kelompok ini terdapat peserta didik yang pintar, sedang dan kurang pintar, atau heterogen. Kelompok ini disebut dengan kelompok asal. Kemudian pendidik memberikan bahan ajar tersebut yang telah dibagi menjadi 5 bagian yang berbeda tiap bagiannya. Bagian tersebut dibagikan kepada satu per satu anggota kelompok. bagian pertama akan berkumpul dengan anggota kelompok lain yang mendapat bagian pertama, dan seterusnya. Kelompok ini disebut dengan kelompok ahli. Dengan bagian yang sama, peserta didik ini berdiskusi untuk mengerti secara keseluruhan dan mendalam pada bagian mereka, apabila ada yang kurang dimengerti ditanyakan kepada pendidiknya. Kemudian setelah bagian tersebut dikupas tuntas dalam kelompok ahli, kembali ke kelompok asal dan melaksanakan tutorial kepada anggota kelompok asal yang lain. Seletah semua bagian telah disampaikan dan peserta didik memahami bagian materi yang lain, memberikan kesimpulan, pendidik memberi evaluasi apabila ada kesalahan konsep atau mengkonfirmasi materi yang disampaikan. Tahap terakhir adalah refleksi, pendidik memberikan semacam poin kepada peserta didik atas kinerja keaktifan dan faktor-fakktor lain.
Metode jigsaw memacu siswa untuk aktif, inovatif, memotivasi peserta didik untuk berusaha memahami materi, belajar berbicara, mentransfer materi yang dimengerti kepada orang lain, memahami dan kritis terhadap materi yang diberikan teman, tidak membosankan, menuntut kerjasama dan penyelesaian masalah dalam kelompok sesama bahan materi.
Peserta didik yang terbiasa dengan metode ceramah, akan semangat dan termotivasi belajar dengan metode yang berganti ini. Kelemahan metode ini adalah waktu yang digunakan lama untuk proses diskusi, penyampaian materi para ahli, pembatan kesimpulan, evaluasi dan refleksi. Rentetan tahapan ini membutuhkan waktu lebih, namun materi akan lebih teringat oleh peserta didik karena yang menyampaikan adalah temannya sendiri. Teman sendiri akan menimbulkan kesan tersendiri bagi peserta didik.
Untuk menyiasati waktu yang kurang efisien ini, indikator yang dipelajari dalam pembelajaran ini ditambah. Contohnya, dua bab digabung menjadi satu, pada bab 5 larutan asam basa dan bab 6 stoikiometri larutan dan titrasi asam-basa digabung menjadi satu paket metode pembelajaran jigsaw ini.
Model penilaian yang menonjol pada metode pembelajaran ceramah dipadukan model Learning Community dalam CTL adalah penilaian kognitif. Pada metode praktikum yaitu penilaian psikomotorik, dan pada metode jigsaw yaitu penilaian afektifnya.


BAB III
PENUTUP

A.    SIMPULAN
Simpulan dari metode pembelajaran yang sesuai dengan berbagai faktor yang ada adalah :
1.      Metode pembelajaran ceramah dan model Learning community dalam CTL sesuai dengan pelajaran yang berisi konsep-konsep dan hitungan kimia.
2.      Metode pembelajaran Praktikum sesuai dengan pelajaran kimia yang berisi konsep tanpa hitungan dan materinya bersifat konkret.
3.      Metode pembelajaran Jigsaw sesuai dengan pelajaran kimia yang berisis konsep tanpa hitungan dan materinya bersifat abstrak.
4.      Tidak ada metode pembelajaran yang benar-benar cocok dengan suatu bab materi.
5.      Model penilaian yang menonjol pada metode pembelajaran ceramah dipadukan model Learning Community dalam CTL adalah penilaian kognitif. Pada metode praktikum yaitu penilaian psikomotorik, dan pada metode jigsaw yaitu penilaian afektifnya.

B.     SARAN
Semua metode pembelajaran akan sulit berhasil bekerja dengan maksimal apabila pendidik sendiri kurang mempersiapkan metode dengan baik. Kesungguhan dari pendidik akan tanggungjawab mengajar peserta didik adalah suatu awal agar metode ini dapat berhasil. Semua metode ini juga dipengaruhi oleh sikap pendidik dalam menerapkan metode ini, pendidik yang mampu memberi motivasi tinggi, berkepribadian baik, dan dapat menjadi teladan akan dapat menarik minat peserta didik untuk belajar dan mengikuti segala prosedur pembelajaran yang ada. Minat peserta didik yang tinggi, kesenangan peserta didik terhadap materi, serta kemauan untuk mempelajari ilmu kimia juga mempengaruhi proses pembelajaran. Intinya, peran peserta didik dan pendidik sama besarnya dalam mewujudkan metode pembelajaran yang baik dan sukses.

Selasa, 22 Mei 2012

Dampak Penggunaan Phenoxyethanol dan Asam Ethylenediaminetetraacetic terhadap Tubuh dalam Bidang Kosmetik


KARYA TULIS
Dampak Penggunaan Phenoxyethanol dan Asam Ethylenediaminetetraacetic terhadap Tubuh dalam Bidang Kosmetik

Disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia


Oleh :
Diana Muslichatun
K3311020
Pend. Kimia A


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA

BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang Masalah
Penggunaan produk kosmetik semakin luas dan bahkan menjadi kebutuhan bagi setiap manusia, terutama kaum wanita. Pemakaian produk kosmetik berperan penting dalam usaha untuk merawat, membersihkan, menambah daya tarik, dan mengubah penampilan seseorang. Dengan semakin pesatnya perkembangan produk kosmetik dan demi menjaga kualitas produknya, perlu adanya pengawasan dan penelitian mutu yang sesuai dengan peraturan dan persyaratan tertentu.
Masyarakat umum biasanya tidak begitu memperhatikan bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kosmetik yang tertera pada produk kosmetik tersebut. Biasanya, mereka memilih produk kosmetik hanya karena iklannya yang menarik atau kepopuleran produk itu. Padahal, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat kosmetik sangatlah penting untuk dipahami dan dimengerti demi menjaga kenyamanan kulit kita dalam menerima produk-produk tersebut. Banyak produk terkenal yang menggunakan bahan-bahan kimia yang sebenarnya membahayakan. Melalui karya tulis ini, penulis berharap agar pembaca dapat mengetahui beberapa bahan berbahaya yang sering digunakan pada produk kosmetik dan pada akhirnya lebih berhati-hati dalam memilih produk kosmetik. Di antara bahan-bahan yang perlu dikaji dalam karya tulis ini adalah Phenoxyethanol dan Asam ethylenediaminetetraacetic. Penulis akan menguraikan dampak penggunaan Phenoxyethanol dan Asam ethylenediaminetetraacetic bagi tubuh dalam bidang kosmetik. Berikut ini akan penulis bahas juga tentang perbandingan penggunaan kedua bahan tersebut pada bidang lainnya.
B.    Rumusan Masalah
1.    Bagaimanakah dampak penggunaan Phenoxyethanol pada tubuh dalam bidang kosmetik?
2.    Bagaimanakah dampak penggunaan Asam Ethylenediamine-tetraacetic pada tubuh dalam bidang kosmetik?

C.    Tujuan Penulisan
1.    Dapat mendiskripsikan dampak penggunaan Phenoxyethanol pada tubuh dalam bidang kosmetik.
2.    Dapat mendiskripsikan dampak penggunaan Asam Ethylene-diaminetetraacetic pada tubuh dalam bidang kosmetik.

D.    Manfaat Penulisan
1.    Memberikan wawasan pengetahuan tentang dampak penggunaan Phenoxyethanol pada tubuh dalam bidang kosmetik.
2.    Memberikan wawasan pengetahuan tentang dampak penggunaan Asam Ethylenediaminetetraacetic pada tubuh dalam bidang kosmetik.




BAB II
PEMBAHASAN
A.     Phenoxyethanol
http://chemicaloftheday.squarespace.com/storage/phenoxyethanol.png?__SQUARESPACE_CACHEVERSION=1298932484463
Phenoxyethanol adalah alkohol eter aromatik. Dari bahan ini mulai keluarlah yang disebut fenol, suatu bubuk kristal putih yang beracun yang diciptakan dari benzena (karsinogen) dan kemudian diperlakukan dengan etilen oksida dan alkali.
Pengawet Phenoxyethanol-eter glikol ini biasanya berasal dari sumber alami seperti tar batubara. FDA melaporkan bahwa produk ini dapat memperlambat sistem saraf pusat. Selain itu, bahan tersebut juga dapat mengiritasi kulit dan mata.
Phenoxyethanol dalam nama kimia dikenal sebagai fenil eter etilena glikol atau etilen glikol eter monophenyl. Phenoxyethanol merupakan senyawa teretoksilasi yang mungkin terkontaminasi dengan racun karsinogenik 1,4 dioxane.
Menurut Journal of Hygiene Industri dan Toksikologi, phenoxyethanol mempengaruhi otak dan sistem saraf pada hewan pada dosis moderat. Pada tahun 1990 Journal of American College of Toxicology melaporkan bahwa phenoxyethanol juga bertindak sebagai disruptor endokrin yang dapat menyebabkan kerusakan pada kandung kemih dan edema paru akut pada hewan. Awal tahun 1980-an studi juga menunjukkan bahwa phenoxyethanol dapat menyebabkan mutasi DNA. Perlu dingat sekali lagi, hanya pada hewan.
Phenoxyethanol adalah iritasi ilmiah terbukti pada kulit manusia dan mata (iritasi kulit perbandingan objektif dan sensorik) dari pengawet kosmetik dan dalam Uni Eropa diklasifikasikan sebagai gangguan. Di Jepang, penggunaan Phenoxyethanol juga dibatasi.
Meskipun ada penelitian tersebut, penggunaan phenoxyethanol pada konsentrasi hingga 1% di Amerika Serikat masih dianggap sangat aman. Material Safety produk Data Sheet (MSDS) mengatakan bahwa phenoxyethanol memang akan berbahaya jika tertelan, terhirup, atau diserap melalui kulit. Jika hal itu sampai terjadi, akibat yang muncul adalah kerusakan reproduksi. MSDS mengacu pada konsentrasi 100%. Semakin rendah dosisnya, semakin lebih aman. Dalam bidang kosmetik, dalam batas konsentrasi 0,5% sampai 1% masih berada dalam tataran rasa aman.
Phenoxyethanol keluar sebagai fenol dan asetaldehida, kemudian asetaldehida mengkonversi ke asetat. Fenol dapat menonaktifkan mekanisme respon utama sistem kekebalan. Studi inhalasi menunjukkan bahwa penggunaan phenoxyethanol sebagai anti-bakteri dalam vaksin dapat  menyebabkan iritasi mata, kulit, dan saluran pernafasan.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penelitian binatang yang ditemukan phenoxyethanol menjadi racun reproduksi. Studi ini menemukan hal yang menjadi penyebab dermatitis kontak (kulit alergen). Phenoxyethanol itulah yang menjadi racun reproduksi. Hal ini menegaskan bahwa  phenoxyethanol sebagai toksin ovarium tidak hanya bagi hewan asli terkena bahan itu, tetapi memang telah terbukti akan mempengaruhi perkembangan keturunannya.
Mengkaji dari beberapa penelitian tersebut, phenoxyethanol merupakan zat berbahaya yang sebaiknya dihindari. Namun, hasil penelitian di Amerika Serikat dinyatakan bahwa penggunaan phenoxyethanol sebagai bahan kosmetik dalam konsentrasi 0,5 sampai dengan 1,0%  masih menunjukkan rasa aman. Penggunaan phenoxyethanol dengan konsentrasi yang relatif masih sedikit ini tentu tidak menunjukkan dampak yang begitu terlihat pada tubuh manusia. Namun demikian, tetap diperlukan kehati-hatian dalam menggunakan bahan ini. Hindari penggunaan di daerah sekitar mata karena bisa jadi produk ini menyebabkan iritasi pada mata.
Phenoxyethanol pada penggunaannya dalam bidang kosmetik bertujuan sebagai pengawet anti-bakteri dan anti-oksidan dalam kosmetik. Penggunaan minyak esensial dan vitamin yang banyak dapat menjadi upaya yang lebih aman sebagai pengawet anti-bakteri dan anti-oksidan dalam kosmetik.
Dalam bidang lainnya, bahan ini sangat tidak dianjurkan karena efek yang sangat serius ketika menggunakannya.

B.    Asam Ethylenediaminetetraacetic
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/09/Metal-EDTA.svg/150px-Metal-EDTA.svg.png
Asam ethylenediaminetetraacetic yang dikenal sebagai EDTA, adalah garam kimia yang digunakan untuk memisahkan logam berat dari pewarna dan zat lainnya. Salah satu bentuk yang dikenal sebagai kalsium dinatrium EDTA, muncul dalam makanan dan produk kosmetik untuk mencegah udara tidak diinginkan masuk ke dalam struktur molekul produk.
Kalsium dinatrium EDTA digunakan dalam pengobatan alternatif, baik sebagai agen pengkelat untuk menghilangkan logam berat dari tubuh maupun untuk menghilangkan plak dari arteri. Karena kalsium dinatrium EDTA merupakan racun bagi manusia dalam jumlah tinggi ketika akan menggunakan harus selalu berkonsultasi dengan dokter.
Sebuah karya tulis yang terbit dalam edisi Mei-Juni 2006 oleh Zhiwen Yuan dan Jeanne, Ilmu Teknik Lingkungan dinyatakan bahwa terdapat rincian bagaimana EDTA rusak di lingkungan menjadi asam etilendiaminatriacetic dan diketopiperazine. Diketopiperazine ini merupakan polutan organik yang persisten, mirip dengan polychlorinated biphenyls (PCB) dan dichlorodiphenyl trikloroetan (DDT).
Kalsium dinatrium EDTA disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk digunakan dalam terapi khelasi, yang menghilangkan logam berat dari tubuh. Akan tetapi, khelasi EDTA dengan kalsium dinatrium ini kandungan vitaminnya sangat rendah. Untuk itu, perlu diberikan booster vitamin. Efek samping dari penggunaan kalsium dinatrium EDTA adalah terjadinya reaksi alergi, gula darah sangat rendah, tingkat kalsium darah, gagal ginjal dan kejang. Menurut FDA, terdapat 11 pasien meninggal dari penggunaan kalsium dinatrium EDTA antara 1971 dan 2007.
Pada penggunaan kalsium dinatrium EDTA sebagai obat, ketika bereaksi dengan seftriakson dapat menimbulkan dampak yang cukup serius. Ceftriaxone adalah antibiotik sefalosporin digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Ketika dikombinasikan, ceftriaxone bereaksi dengan kalsium dinatrium EDTA untuk memproduksi kristal kalsium dalam paru-paru dan ginjal, yang dapat mengancam kehidupan. Dinatrium EDTA kalsium juga dapat mengakibatkan tubuh menyerap seftriakson lebih dari yang seharusnya, yang mengurangi efektivitas dari antibiotik pada bakteri menghancurkan.
Penelitian lain (Lanigan, 2002) menemukan bahwa kedua paparan dermal untuk EDTA yaitu sitotoksik dan genotoksik dalam formulasi kosmetik dan paparan inhalasi ke EDTA dalam formulasi kosmetik aerosol akan menghasilkan tingkat pemaparan di bawah mereka terlihat menjadi racun dalam studi dosis oral.
Mengkaji dari penelitian-penelitian yang terdapat di atas, EDTA memang dapat menghilangkan logam berat, dalam penggunaannya di bidang kosmetik tidak menunjukkan dampak negatif yang begitu serius. Dalam bidang kosmetik, penggunaan EDTA terbukti dapat mencegah udara dari memanjakan mereka dengan memperkenalkan oksigen yang tidak diinginkan ke dalam struktur molekul produk. Hal ini sangat baik, akan tetapi perlu diketahui pada bidang lain, penggunaan EDTA seperti pada terapi dan obat dapat menimbulkan dampak yang sangat merugikan. EDTA yang dapat mengikat logam berat ini, berarti mampu mengikat radikal bebas dan kotoran, sehingga kulit lebih terhindar dari kedua masalah tersebut.




BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

A.   KESIMPULAN
Dari uraian dalam pembahasan pada Bab II, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.     Phenoxyethanol merupakan bahan kimia yang dapat membahayakan, baik iritasi mata, iritasi kulit, dan menekan saraf. Akan tetapi, jika dalam penggunaan pada bidang kosmetik masih dalam konsentrasi 0,5 sampai dengan 1%, masih dianggap aman, tidak membahayakan bagi tubuh manusia.
2.     Penggunaan asam EDTA tidak membahayakan, bahkan dapat menyerap radikal bebas sehingga kulit justru terlindungi.

B.    SARAN
1.     Penggunaan phenoxyethanol hendaknya dilakukan dengan kehati-hatian agar tidak terjadi kerusakan pada kulit tubuh kita.
2.     Penggunaan phenoxyethanol sebaiknya tidak pada sekitar wilayah mata untuk meminimalisir terjadinya iritasi mata.
3.     Bagi wanita yang terbiasa menggunakan kosmetik, sebaiknya menggunakan bahan asam EDTA, terlebih lagi pada lingkungan perkotaan karena asam EDTA dapat menyerap radikal bebas dan melindungi kulit menjadi tetap sehat.